X
AKP Rio Reza Parindra, Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang. (Foto: inilahkepri/Albet)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Pergaulan bebas dikalangan remaja tak sedikit berakhir di penjara. Seorang pemuda di Tanjungpinang harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran diduga menghamili pacarnya yang masih di bawah umur.

Peristiwa itu ketahui langsung oleh orang tua korban saat memeriksa kesehatan korban di rumah sakit setempat pada Senin (12/10/2020) kemarin. Dokter di rumah sakit tersebut mendiagnosa korban bukan karena sakit serius, melainkan hamil dengan usia kandungan sudah memasuki 4 minggu.

Mendengar hal tersebut, orang tua korban langsung mengklarifikasi informasi dari dokter tersebut. Kala itu, korban yang masih berusia 16 tahun berinisial M itu mengakui bahwa telah melakukan hubungan layaknya suami istri bersama pelaku berinisial IM (19).

"Kejadian ini dilaporkan dengan LP-B/122/X/2020/KEPRI/SPKT-RES TPI, pada Selasa (13/10/2020) kemarin," kata Kepala Satreskrim Polres Tanjungpinang, AKP Rio Reza Parindra, Rabu (14/10/2020).

Rio mengatakan, antara IM dan M berpacaran sebulan terakhir.

"Mereka kenal lima bulan lalu, tapi baru berpacaran sebulan ini," terang Rio.

Selama berpacaran dengan terlapor, korban sudah 3 kali melakukan hubungan layaknya suami istri.

"Korban tidak ingat lagi hari dan tanggal mereka berhubungan layaknya suami istri. Tetapi terakhir kalinya antara korban dan terlapor melakukan hubungan layaknya suami istri  sekitar bulan September 2020 di Wisma Seroja, Jalan Kemboja," ungkapnya.

Ia menyebut, pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan penangkapan terhadap terlapor di Jalan Batu Kucing, sekitar pukul 20.30 WIB, Selasa kemarin. Kata dia, pelaku langsung dibawa ke Mapolres Tanjungpinang guna penyelidikan lebih lanjut.

"Selasa malam, pelaku sudah diamankan, dan saat ini masih dalam penyidikan," ujarnya.

Terkait kejadian tersebut, pelaku dikenakan Pasal 81 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas  UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Pelaku terancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara," pungkasnya. (Albet)

Share this Post

BERITA TERKAIT