X
Pelantar di Hutan Bakau Kawasan Pariwisata Batu Limau. Di tempat ini, wisatawan dapat menikmati asrinya hutan bakau sekaligus melihat beraneka bebatuan berbentuk unik yang ada di kawasan tersebut. (Foto: Oma)
Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Karimun kini tengah berbenah, menciptakan berbagai destinasi yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut.

Pewarta : Mamen

Salah satu destinasi baru di Pulau Alai, Tanjung Batu, Kabupaten Karimun adalah berupa wisata hutan bakau (mangrove).  Hutan bakau ini terletak di Kawasan Wisata Batu Limau, Desa Batu Limau, Pulau Alai. 


Menuju tempat ini tidaklah rumit. Dari Tanjung Batu pengunjung dapat menaiki pompong menuju Pulau Alai. Tarifnya beragam, mulai Rp3 ribu hingga Rp5 ribu tergantung usia. Waktu tempuh hanya sekitar 5 menit. 

Dari Pelabuhan Pulau Alai, pengunjung kemudian menumpang ojek yang tarifnya sebesar Rp15 ribu. 

Sekedar saran, jika Anda memang berniat ke kawasan wisata Batu Limau, sebaiknya Anda membawa bekal berupa jajanan atau minuman mengingat tidak ada kedai atau warung di kawasan ini. Kedai atau warung hanya tersedia saat hari besar tertentu semisal Idul Fitri.

Hutan bakau di kawasan wisata Batu Limau menawarkan panorama alam yang masih segar dan alami. Pengunjung dapat melihat suasana asrinya hutan bakau Wisata Batu Limau dengan meniti jembatan sepanjang 192,5 X 2 meter yang berdiri mengitari hutan bakau.

Masyarakat setempat, Sudir menjelaskan, pelatar atau jembatan itu belum lama dibangun. Pembangunannya menggunakan Dana Desa (DD) tahun 2018 senilai Rp160 juta.

Selain menikmati panorama hutan bakau yang asri, para wisatawan juga dapat memanfaatkan keberadaan jembatan wisata itu untuk berswafoto dengan keluarga atau pasangan.

Selain menikmati suasana hutan bakau yang asri, wisatawan juga dapat melihat bebatuan unik dan bersejarah yang ada di Kawsan Wisata Batu Limau. Bebatuan diantaranta ada yang menyerupai manusia dan benda-benda lain. Bebatuan unik itu dinamai oleh warga sesuai bentuknya, semisal batu kapal, batu bilik, batu lesung, batu keris, batu kemaluan, serta beberapa batu lain.

Jufrizal, salah seorang wisatawan yang baru pertama berkunjug ke kawasan ini mengaku jika kawasan wisata di Batu Limau sangat bagus dan sangat cocok dijadikan sebagai wahana liburan keluarga.

Namun dia menyarankan agar pengelola kawasan mengadakan hiburan guna menarik wisatawan ke daerah tersebut.

"Hiburan bisa jadi berupa pertunjukan musik atau sebagainya. Apalagi pada hari besar atau hari libur," kata Jufrizal ditemui Minggu (9/6/2019).

Pengelolaan kawasan wisata yang dikelola dengan baik disebut Jufrizal tentu akan berdampak kepada peningkatan ekonomi desa setempat. Ramainya wisatawan yang berkunjung dapat dimanfaatkan kelompok masyarakat dengan berjualan, mengelola uang parkir, termasuk pula pengelolaan tiket masuk.

"Sekarang kan masih gratis," ujarnya. (*)

Share this Post

BERITA TERKAIT