X
Salah satu sumur di Rumah Tahanan Tanjungpinang. (Foto: Andri)
Rumah tahanan (Rutan) Tanjungpinang memiliki sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain memiliki ruang khusus eksekusi hukuman gantung, penjara peninggalan masa penjajahan Portugis ini juga memiliki sumur berusia tua.

Pewarta : Andri Mediansyah

Sumur-sumur tua yang ada di Rutan yang beralamat di Jalan Pemasyarakatan, Kampung Jawa, Tanjungpinang, bahkan masih dimanfaatkan sampai kini.

"Selain mengandalkan air PAM, air dari sumur ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air di sini," kata Kepala Keamanan Rutan Tanjungpinang, Fajar akhir pekan lalu.

Setidaknya ada dua dari sedikitnya 6 sumur di Rutan Tanjungpinang yang hingga kini masih dimanfaatkan. Dua sumur dimaksud salah satunya berada di bagian belakang penjara, dan satunya lagi berada tak jauh dari tempat parkir kendaraan.

"Di komplek perumahan Rutan ada empat. Tapi tidak dimanfaatkan lagi," ujar Fajar.

Sama seperti bangunan penjara, sumur di Rutan Tanjungpinang memiliki keunikan. Rata-rata sumur memiliki diameter cukup lebar, antara 4 hingga 6 meter, terbuat dari batu granit berukuran besar dengan kedalaman mencapai puluhan meter.

"Kita tidak mengetahui berapa dalam sebenarnya," kata Fajar.

Hanya saja, sumur memiliki kedalaman hingga tujuh lapis dinding yang semakin ke dalam diameternya semakin menyempit. Namun sayangnya, tujuh lapisan kedalaman sumur itu tidak dapat terlihat jelas. Sebagian besar sumur telah tertimbun menyebabkan pendangkalan. Saat ini sumur hanya memiliki kedalaman hingga 8 meter saja.

"Walau begitu, air sumur tidak pernah kering. Kecuali kemarau panjang," ujar Fajar lagi.

Menurut Fajar, pihaknya tidak mengetahui pasri berapa usia sumur-sumur tersebut. Hanya saja dia memperkirakan sumur tersebut dibangun berbarengan dengan didirikannya bangunan sisa penjajahan Portugis di Tanjungpinang. Banguan itu diketahui dirampungkan oleh Penjajah Belanda oada tahun 1867.

Mengutip Wikipedia.org, Bangsa Portugis melakukan ekspedisi penjelajahan pertama yang dikirim ke Malaka dan baru ditaklukkan pada tahun 1512.

Selain sumur, sebagian besar bangunan Rutan Tanjungpinang yang ada sekarang ini masih merupakan bangunan asli. Arsitektur banguan berbentuk huruf E bergaya Eropa. 

Sama seperti dinding tebal, penyangga atap, termasuk pintu masuk terbuat dari kayu balau yang masih utuh. Bangunannya masih terlihat kokoh meski telah berumur ratusan tahun, termasuk ruangan yang sebagian besar kini dihuni warga binaan yag masih utuh.

Sama halnya dengan sebuah ruang tak jauh dari sumur di bagian belakang bangunan. Ruang itu merupakan ruang tempat melakukan eksekusi hukuman gantung. Kini ruangan berukuran sekitar 6x4 meter itu dibiarkan kosong. Ini dimungkinkan berkaitan dengan cerita horor warga binaan yang pernah ditempatkan di ruang tersebut. 

Saat ini, kata Fajar, pihak Rutan Tanjungpinang tengah berupaya mengumpulkan bukti dan sumber terkait sejarah pendirian bangunan tersebut.

"Kami tengah berupaya mengumpulkannya melalui tokoh masyarakat, dan sejarawan," kata Fajar.

Pihaknya telah berupaya mencari arsip terkait bangunan dengan mendatangi Perpustakaan dan Arsip Kepulauan Riau.

"Tapi tidak ada manuskrip yang berkaitan atau menceritakan sejarah pembanguan Rutan ini," ungkap Fajar.

"Ada yang menyebut dokumen terkait bangunan ini ada di Belanda," katanya lagi.

Sebagaimana diketahui, Rutan Tanjungpinang termasuk salah satu bangunan yang dijadikan pemerintah sebagai cagar budaya yang ada di Tanjungpinang. (*)

Share this Post

BERITA TERKAIT